Buleleng, 28 Maret 2025 – Dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1947, Desa Adat Buleleng menggelar Pengrupukan Festival dengan arak-arakan ogoh-ogoh yang disertai fragmentari. Acara ini melibatkan 14 Banjar Adat di lingkup Desa Adat Buleleng dan berlangsung meriah di Catus Pata, Jalan Gajah Mada, Singaraja, pada Sabtu (28/3).
Festival ini dihadiri oleh Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Enik Ermawati yang akrab disapa Ni Luh Puspa, Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG, Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, SH, serta sejumlah pejabat daerah, termasuk Sekda Buleleng, Ketua DPRD Buleleng, Kapolres Buleleng, Forkompinda lingkup Pemkab Buleleng, Ketua Majelis Desa Adat Kabupaten Buleleng, Kelian Desa Adat Buleleng, Camat Buleleng, para lurah, serta undangan lainnya.
Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, dalam laporannya menyampaikan bahwa Pengrupukan Festival diselenggarakan sebagai bentuk kerinduan para yowana (muda-mudi) terhadap momen kebersamaan dalam menyambut Hari Raya Nyepi setelah pandemi COVID-19. Ia menegaskan bahwa festival ini bertujuan untuk mengangkat potensi budaya Desa Adat Buleleng serta mendukung program pemerintah daerah dalam pelestarian budaya. “Hendaknya festival-festival yang diselenggarakan lebih mengakar, tidak hanya sekadar seremonial,” ujarnya. Ia juga berharap agar berbagai festival di Kabupaten Buleleng dapat dikenal secara internasional.
Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Desa Adat Buleleng dalam mengadakan acara ini. Ia menegaskan bahwa Pemkab Buleleng mendukung penuh festival ini dan berharap agar dapat terus berlanjut ke depannya. Pemkab Buleleng juga berencana mengembangkan Festival Pengrupukan di seluruh desa adat di Kabupaten Buleleng yang berjumlah sekitar 166 desa adat agar dapat berpartisipasi pada tahun mendatang.
Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Enik Ermawati atau Ni Luh Puspa, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya Pengrupukan Festival yang disambut antusias oleh masyarakat. Ia menekankan bahwa festival ini akan membawa dampak positif bagi masyarakat dan sektor pariwisata di Kabupaten Buleleng. “Festival merupakan salah satu cara efektif untuk menarik wisatawan ke suatu daerah,” ujarnya. Ia juga mendukung rencana Bupati Buleleng dalam memperluas festival ini ke seluruh desa adat di kabupaten. Menurutnya, festival ini membuka peluang kolaborasi dalam mendukung program pemerintah di sektor pariwisata guna membangkitkan ekonomi nasional. Konsep pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan menjadi kunci dalam pelestarian budaya dan pembangunan ke depan.
Acara Pengrupukan Festival secara resmi dibuka dengan pemukulan “tektekan” serta mengangkat ogoh-ogoh bersama-sama, menandai dimulainya perayaan yang penuh semangat dan kebersamaan bagi masyarakat Buleleng.