Uniknya Ramadhan di Bali Utara

  • Admin Dispar
  • 10 Mei 2019
  • Dibaca: 444 Pengunjung

Bali memang banyak punya wajah. Di Bali ada sebuah desa di daerah Sukasada, kabupaten Buleleng yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Desa Pegayaman namanya. Desa Pegayaman ini berpenduduk sekitar 1.000 Kepala Keluarga atau 5.000 jiwa. Di desa ini masih mempertahankan nuansa budaya dan adat istiadat yang masih sangat kental dan melekat dengan tradisi masyarakat Bali yang beragama Hindu. Salah satu contohnya adalah dalam penggunaan nama orang untuk warga Muslim, ciri utama Bali tidaklah hilang. Nama warga muslim yang digunakan bernuansa Hindu, yang membedakan hanyalah nama belakangnya yang mencerminkan nama seorang muslim seperti:  Wayan Hasan dan Ketut Asghar Ali untuk nama pria, dan Ni Made Fatimah atau Ni Nyoman Aisyah untuk nama perempuannya. Paduan nama antara Islam dan Hindu itu sudah melekat seolah sulit dipisahkan.

Dari sejumlah cerita keberadaan warga muslim Pegayaman ini, mereka dulunya adalah prajurit tangguh milik Kerajaan Buleleng yang berasal dari luar pulau Bali serta ditugaskan menjaga perbatasan. Karena berabad - abad hidup berdampingan dengan warga Hindu Bali, maka kebudayaan dan kebiasaan mereka pun tidak bisa lepas dari budaya Bali.

Begitu juga saat hari raya Idul Fitri tiba. Warga muslim menghiasi rumah mereka dengan bernuansa Hindu dan tata cara berpakaian yang tidak terlepas dengan tata cara berpakaian masyarakat Hindu. Tradisi ini merupakan salah satu cermin pembauran budaya Bali. Hampir 95 persen warga di desa ini beragama Muslim.

Ada yang unik dalam perayaan Bulan Suci Ramadhan di Desa Pegayaman Kabupaten Buleleng. Saat siang hari, warga muslim sibuk dengan aktivitas masing - masing, namun saat adzan Maghrib berkumandang dan anak - anak sudah berbuka, mereka akan langsung berlari menuju pinggiran jalan untuk menjajakan barang jualan mereka. Ada yang jualan jajanan, cemilan atau buah - buahan. Anak - anak akan berbondong - bondong menuju Pasar Senggol yang diadakan setiap bulan suci Ramadhan. Pasar Senggol ini menyediakan jajanan dan makanan kecil yang disukai anak - anak dengan harga yang terjangkau dan cocok dengan kantong anak - anak. Ada jeruk, sawo, salak, apel dan aneka jajanan lainnya. Mereka biasanya saling bergantian membeli barang dagangan milik temannya. Tradisi ini berlangsung hanya sebentar setiap malam selama Ramadhan. Saat adzan Isya terdengar, anak - anak Desa Pegayaman akan kembali pulang untuk melaksanakan sholat Tarawih. Remaja dan orang tua pun menunaikan sholat Tarawih.

Waktu melaksanakan shalat tarawih di desa ini tidak seperti warga muslim Bali lainnya, penduduk desa ini melakukan shalat tarawih saat menjelang tengah malam, yaitu pukul sekitar 22.00 yang kemudian dilanjutkan dengan tadarus al-Qur'an yang biasanya dimulai pada pukul 23.00. Alasannya, Shalat tarawih saat bulan Ramadhan ini dilakukan menjelang tengah malam agar memberi kesempatan kepada warga yang rumahnya berjauhan dari masjid dan yang memiliki kesibukan agar bisa shalat tarawih di satu - satunya masjid besar di desa ini, yaitu masjid Safiinatussalaam. Begitulah seterusnya kegiatan ini diadakan setiap datangnya bulan suci Ramadhan.

 

Sumber : http://ikpmbali.blogspot.com/2015/07/tradisi-unik-warga-muslim-desa.html

Share Post :